Sekitar 32 tahun kita hidup dalam belenggu pemerintahan otoriter, totaliter, fasisme Orde Baru. Hak Asasi beserta demokrasi telah dipasung selama 32 tahun. 10 tahun sudah Orde Reformasi yang digawangi para pemuda, mahasiswa, intelektual, dan para cendekiawan telah menumbangkan pemerintahan fasis Orde Baru. Lalu bagaimana nasib Hak asasi dan demokrasi kita ?
Sebelum kita meninjau lebih jauh tentang demokrasi di Indonesia, saya akan memberikan pendahuluan terlebih dahulu tentang bagaimana tahapan demokrasi dan siapakah pelaku utama demi tegaknya demokrasi di Negara kita, referensi kami ambil dari buku karangan intelektual muda sekaligus pemberani M. Fadjroel Rachman ( Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat ).
Demi tegaknya demokrasi yang kita idam – idamkan beberapa tahapan harus kita lalui, yaitu :
Tahap otoriter dan totaliter
Tahap transisi demokrasi
Tahap system demokrasi yang diperluas dan diperdalam.
Untuk tahap yang pertama, tahap otoriter dan totaliter telah kita lampaui yaitu Untuk tahap yang pertama, tahap otoriter dan totaliter telah kita lampaui yaitu pemerintahan otoriter Orde Baru, sedangkan tahap yang kedua adalah transisi demokrasi, tahap yang kedua ini memiliki sikap diskontinuitas terhadap tahap yang pertama, selain itu juga tahap transisi demokrasi juga diperlukan sebuah konsolidasi dari beberapa actor / arena / pelaku dari system demokrasi ( major arena ), ada 5 major arena yaitu :
1. Masyrakat sipil ( civil society )
2. Masyrakat politik ( polital society )
3. Supremasi hokum ( rule of law )
4. Aparatus Negara ( state apparatus )
5. Masyarakat ekonomi ( economic society )
Kelima major arena ini harus melakukan konsolidasi dan tidak boleh saling mentiadakan, lalu berikutnya adalah tahap ketiga yaitu system demokrasi yang diperluas dan diperdalam, tahap ini memiliki sifat kontinuitas terhadap tahap yang sebelumnya, yaitu tahap yang kedua.
Lalu bagaimana kondisi di Indonesia sendiri setelah 10 tahun lamanya Orde Reformasi berkuasa. Kita bisa melakukan tinjauan melalui elemen – elemen tahapan, seberapa jauhkah demokrasi kita melangkah dalam Orde Reformasi ini. Tahap pertama yaitu sebagai contoh sebuah pemerintahan yang otoriter, totaliter, dan fasis Orde Baru telah menjadi tahap yang pertama dalam elemen – elemen tahapan demokrasi. Dan kita ketahui bahwasanya pemerintahan Orde Baru telah berhasil ditumbangkan oleh para pahlawan – pahlawan reformasi. Akan tetapi untuk melangkah ke tahap yang kedua yaitu transisi demokrasi kami harus kembali mengingatkan bahwasanya kita harus terputus / diskontinuitas terhadap tahap yang pertama. Atau dengan kata lain kita harus benar – benar bersih dari segala elemen Orde Baru, baik itu para antek – antek Orde Baru, Lembaga, dan mesin politik Orde Baru ( Partai Golkar ), karena tidak mungkin kita merebut, mempertahankan dan membangun gagasan demokrasi kita bersama elemen – elemen otoriter, totaliter yang anti demokrasi. Karena pada dasarnya musuh utama dari demokrasi adalah Otoriterisme, totaliterisme, fasisme begitu juga sebaliknya. Akan tetapi apakah fakta yang kita lihat sekarang, Partai Golkar masih ikut serta dalam Orde Reformasi bahkan memenangkan suara terbanyak ( dari segi Parpol ) dalam Pemilu 2004, para antek – antek Orde Baru masih enak berkeliaran menikmati harta rampokannya selama Orde Baru berkuasa, para jama’ah Ahmadiyah dan JIL ( Jaringan Islam Liberal ) diberlakukan secara tidak manusiawi oleh FPI, badan sensor yang seenaknya memotong bagian film yang sudah susah payah dikerjakan oleh insan perfilman, RUU Pornografi yang berpotensi memecah belah kesatuan NKRI. Ini adalah suatu fakta yang sangat menyedihkan untuk demokrasi kita saat ini. Karena kita tidak akan mungkin sampai tahap yang ketiga yaitu system demokrasi yang diperluas dan diperdalam, sebelum tahap transisi demokrasi terselesaikan.
Maka dari itu mari para pemuda pro- demokrasi kita rebut kembali demokrasi kita. Kita harus menolak segala hal yang berbau otoriterisme, totaliterisme baik itu dari agama, politik dan system pemerintahan. Karena hakekatnya, musuh demokrasi adalah otoriter – totaliter, fasisme, begitu juga sebaliknya. Dengan sebuah jalan demokrasi, maka akan terwujudlah sebuah masyarakat sosialis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar